Home » SEPUTAR PAPUA » Taujih Ust. Salim Segaf Al-Jufri: Pondasi Kemenangan Adalah Tarbiyah dan Dakwah

Taujih Ust. Salim Segaf Al-Jufri: Pondasi Kemenangan Adalah Tarbiyah dan Dakwah

Taujih Ust. Salim Segaf Aljufri (Ketua Majelis Syuro) Dalam
Konsolidasi Kader Untuk Pemenangan Dakwah di Sragen, Senin 17 Agustus
2015

Setelah empat kali kita mengikuti pemilu, kita bisa melihat
bagaimana dampak politik terhadap pribadi kita. Politik sungguh sangat
dominan dalam kehidupan sehari-hari sehingga hal-hal yang berhubungan
dengan da’awi terjadi stagnasi bahkan penurunan.

Politik adalah
sarana dan upaya kita untuk memenangkan dakwah kita. Tapi pondasi untuk
meraih kemenangan itu adalah tarbiyah dan dakwah.

Kita harus
mensyukuri capaian yang telah kita raih. Kita mentargetkan membangun 20
sampai 25 lantai sehingga kita akan masuk 3 besar. Namun Allah baru
memberikan kita 7 lantai. Ini harus kita syukuri, karena 7 lantai ini
adalah 7 lantai yang kokoh. Lebih baik kita diberi 7 lantai yang kokoh
daripada diberi 25 lantai yang rapuh, yang justru itu membahayakan.
Menang tapi justru membuat kita terpecah belah dan saling berebut satu
sama lain. Tidak ada keberkahan di dalamnya.

Rasulullah
mengingatkan, “Sungguh bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian.
Tapi yang aku khawatirkan adalah manakala dibukakan pintu dunia ini
seluas-luasnya kepada kalian.”

Ikhwah fillah, soliditas kita
adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar2. Oleh karena itu, dakwah dan
tarbiyah harus menjadi panglima dalam kita bergerak dan berpolitik.
Keimanan harus menjadi pondasi, karena dengan iman itulah Allah akan
membukakan pintu hidayah kepada orang2 yang kita dakwahi.

Kita
lihat Asiyah, istri Firaun. Wanita yang hidup ditengah istana kezaliman
Firaun, namun dia menjadi beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.
Siapakah yang memberikan hidayah kepada istri Firaun tersebut?

Itulah cara-cara Allah memberikan hidayah, melalui cara-cara yang penuh
keimanan. Kita ingin membangun perpolitikan yang dibangun dengan
keimanan, kejujuran dan amanah.

Kita tidak mengharamkan posisi,
jabatan dan kekuasaan. Tapi semua itu untuk membangun negeri dan
menegakkan kebenaran. Bukan untuk yang lain.

Firaun memiliki
seorang masithoh (tukang sisir) yang tugasnya khusus menyisir rambut
anak Firaun. Pada suatu ketika masithoh sedang menyisir rambut seorang
anak Firaun, sisir yang digunakan terjatuh dan dia mengambilnya dengan
membaca Bismillah. Hal ini lalu dilaporkan kepada Firaun. Lalu apa yang
dilakukan oleh Firaun? Dia lalu menyiapkan panci besar berisi minyak
yang dididihkan dan memasukkan anak2 masithoh tersebut satu persatu,
agar masithoh mengakui Firaun sebagai tuhannya. Namun sampai seluruh
anak2nya dimasukkan ke minyak mendidih itu, masithoh tetap teguh dengan
keyakinannya. Dan pada akhirnya, setelah seluruh anak2nya selesai,
masithoh pun juga dimasukkan ke dalam minyak mendidih tersebut. Dan
ketika Rasulullah isra mi’raj, beliau mencium aroma yang sangat wangi,
dan Jibril menjelaskan itu adalah wangi masithoh dan anak2nya yang teguh
dengan kecintaannya kepada Allah.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita tetap teguh dengan keyakinan kita saat lemah maupun saat berkuasa?

Kalau kita rapat sampai jam 1 atau jam 2 malam, apakah kita lebih hebat
dari Rasulullah? Kapan kita bermunajat kepada Allah, padahal saat2 itu
adalah saat2 Rasulullah bermunajat kepada Allah?

Kita ingin
membangun Indonesia yang kokoh, yg solid dan sejahtera. Tapi saat ini
Indonesia jauh tertinggal, termasuk dari korea yg kemerdekaannya berbeda
2 hari dari Indonesia. Tapi Indonesia di sana lebih dikenal sbg negara
pengirim pembantu RT.

Maka kita harus membangun negeri ini dengan
kebersamaan kita dalam keimanan. Tidak ada yang lebih hebat dari Allah.
Kita membangun negeri ini utk mendapatkan kecintaan Allah, bukan untuk
kepentingan nafsu pribadi. Untuk ikhlas seperti itu memang tidak mudah,
tapi jika sudah menjadi kebiasaan, dia mudah saja dan tidak menganggap
itu sbg keikhlasan. Itulah seorang mukhlasin, yg iblis pun tidak mampu
menggodanya.

Partai ini panglimanya adalah dakwah, panglimanya
adalah dzikrullah dan shalawat kepada nabi, panglimanya adalah ibadah
kepada Allah. Lakukan dengan itqon dan ihsan. Jazakumullah khoir, terima
kasih sudah membantu partai ini. Ucapan seperti ini memberi dampak yg
sangat luar biasa dan menjauhkan kita dari keangkuhan.

Darimana
kita tahu bahwa seseorang atau partai itu mendapatkan cahaya Allah? Itu
terlihat dari hati-hati mereka yg selalu berdzikir kepada Allah. Semoga
partai ini mencintai dan dicintai Allah, dan memperoleh kemenangan di
dunia dan akhirat. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

[Milad PKS] Lukas Enembe: Memimpin Dimulai dari Keluarga

Calon Gubernur Papua nomor urut 1, Lukas Enembe mengatakan, seorang pemimpin Papua yang berkualitas dan ...