Home » SEPUTAR PAPUA » Bahaya Terima Berita dari Lidah | Oleh: Ust. Zulfi Akmal

Bahaya Terima Berita dari Lidah | Oleh: Ust. Zulfi Akmal

  
Oleh: Ustadz Zulfi Akmal

Bagi
penyebar fitnah dan berita dusta, cukup menyebarkan kata dengan kalimat
samar dan ambigu tanpa perlu data dan bukti. Nanti dengan sendirinya
berita itu akan berpindah dari satu mulut ke mulut yang lain tanpa
diketahui dari mana sumber aslinya. Hasilnya, penyebar berita aman dari
tuduhan dan dakwaan.

Tinggallah orang yang terkena serangan
fitnah bersama penderitaan batin. Pukulan secara kejiwaan dan tekanan
perasaan yang kadangkala berimbas kepada fisik. Bagi yang mempunyai
kemampuan untuk membela diri akan kalang kabut dengan segala cara
memberikan klarifikasi. Seperti yang dilakukan Shafwan bin Mu’aththal
setelah difitnah berbuat tidak senonoh dengan ibunda Aisyah. Di saat itu
sumber fitnah tersenyum simpul di balik persembunyiannya.

Ketika
Allah menceritakan bagaimana fitnahan yang hampir meluluhlantakkan
sendi kehidupan bermasyarakat kaum muslimin yang dibikin oleh Abdullah
bin Ubay bin Salul itu menyebar dari mulut ke mulut dengan sangat cepat,
di sana Allah berkata:

“(Ingatlah) diwaktu kamu menerima
berita bohong itu dari lidah ke lidah dan kamu katakan dengan mulutmu
apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu
yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.”
(Qs. An-Nur: 15)

Seharusnya berita diterima dengan telinga, tapi dalam ayat ini justru dikatakan berita diterima dengan lidah….

Iya,
begitulah kenyataannya. Kebanyakan orang menerima berita dengan lidah,
bukan dengan telinga. Karena itulah ia dengan mudah tersebar kepada
lidah yang lain. Berita sampai di lidah bagaikan bola voli sampai di
tangan. Tanpa ditahan sedikitpun bola akan langsung dipukul supaya
sampai ke tangan yang lain.

Beda dengan orang yang menerima
berita dengan telinga, mereka akan mencerna dulu dengan akalnya, apakah
berita itu benar atau hanya sekedar lontaran kata tanpa hakikat
kebenaran.

Demi ketentraman hidup bermasyarkat dan keselamatan di
akhirat, biasakan menerima berita dengan telinga, hindari menerima
berita dengan lidah. Pikir dulu 7000 keliling sebelum menyebarkan atau
men-share sebuah berita.

Luput dari keikutsertaan menyebarkan berita yang benar lebih baik dari pada terlanjur menyebarkan berita bohong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

[Milad PKS] Lukas Enembe: Memimpin Dimulai dari Keluarga

Calon Gubernur Papua nomor urut 1, Lukas Enembe mengatakan, seorang pemimpin Papua yang berkualitas dan ...