Home » SEPUTAR PAPUA » Kecelakaan Menuju Tempat Mabit, Mantan Aleg PKS Merauke Yang Sederhana Itu Meninggal

Kecelakaan Menuju Tempat Mabit, Mantan Aleg PKS Merauke Yang Sederhana Itu Meninggal

Almarhum Ustadz Supardiyo saat dirawat di ruang ICU RSUD Merauke

Ustadz Supardiyo, salah seolah muasis dakwah di Merauke telah kembali ke
haribaannya karena kecelakaan tunggal saat menuju tempat mabit dan mengalami
pendarahan hebat di otak. Sempat dirawat semalam di rumah sakit, aleg Partai
Keadilan Sejahtera (PKS) Periode 2004-2009 itu menghembuskan nafas terakhirnya
pada Senin (11/5/2015).
Almarhum ustadz Supardiyo selama ini dikenal sebagai sosok guru yang
bersahaja, penuh ikhlas dan kesederhanaan dalam kehidupannya, namun selalu
terlihat tegas dan berwibawa di mimbar-mimbar masjid. Untuk mengenang guru yang
selalu melekat logo PKS di baju kokonya itu, berikut ini kami hadirkan tulisan
seorang muridnya yang pernah merasakan bimbingannya, Muhammad Firdaus Abduh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim……
Hari ini kembali
kita ditinggalkan oleh seorang Guru yang ikhlas dan seorang Tokoh Masyarakat
yang bersahaja. Seorang politikus yang amanah dan tauladan hidup yang gigih dan
inspiratif. Ya, hari ini kita ditinggalkan oleh seorang perintis partai dakwah
PKS di ujung paling timur Indonesia, di
Kabupaten Merauke
Ustad Supardiyo Rahimakumullah, dikenal sebagai seorang pemuda yang tegas penuh
karakter dalam ceramah-ceramahnya  sejak
awal keberadaannya di kabupaten Merauke.
Namun didalam
aktivitas kesehariannya ia dikenal sosok yang Ramah dan lembut dalam pergaulan
dengan masyarakat sekitarnya. Selalu tampak sederhana dalam penampilan walau
telah berstatus anggota dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) kab. Merauke dari
Partai Keadilan Sejahterah (PKS). Sosok yang sejak mudanya sudah aktif dalam
partai dakwah tersebut bahkan sejak masih Partai Keadilan (PK), adalah seorang Ustad
yang juga fasih dalam berbahasa
Inggris dan Arab.
Sejak awal
keberadaannya  di
kota merauke, perhatian
dan aktivitasnya lebih dekat pada dunia pendidikan. Selain pernah mengajar di
SMP Yapis Merauke sebagai Guru Bahasa Inggris, Beliau juga aktif mengajar
bahasa arab dan bacaan qur’an pada anak-anak Muslim di
sekitar rumahnya. Selain
aktif di
dunia pendidikan, dan sebelum menjadi Anggota Legislatif, beliau
adalah seorang pedagang sayur yang menjajakkan sendiri dagangan sayurnya dari
hasil kebun yang juga diolah olehnya sendiri. Dari profesi dagangnya itulah dan
selain dari aktifitas ceramahnya yang sering diundang di mimbar-mimbar masjid
kota merauke dan daerah lokasi
(daerah transmigrasi), beliau menjadi dikenal oleh
banyak masyarakat kota Merauke, hingga mendapat amanah dan kepercayaan dari
masyarakat untuk duduk di DPRD kab. Merauke.
Kebiasaan hidup yang serba sederhana tidak berubah walau sdh berstatus
anggota dewan yang terhormat, terlihat dari bilik rumahnya yang masih tetap terbuat
dari kayu dan papan-papan dikelilingi kebun-kebun sayur dan buah di sekitar
halamannya, dengan kendaraan motor yang tetap beroda dua.
Setahu penulis beliau adalah sosok pemurah, dan pemberi hadiah yang
tak terduga. Penulis pernah merasakan langsung kebiasaannya itu. Spontan dalam
sikap pemberinya itu, menjadi kesan tersendiri penulis pada sosok almarhum. Ya,
Ustad yang tidak diluluskan dari sekolah tingginya di solo hanya karena prinsip
kuat yang dimilikinya dan tidak sesuai dengan kampusnya ini, kini telah kembali
pada Rabbnya pada senin siang 11 Mei, dengan sebelumnya sempat dirawat dan
dioperasi akibat pendarahan di otaknya disebabkan kecelakaan tunggal roda dua
semalam sebelumnya saat menuju ke agenda MABIT di kabupaten Kurik yang berjarak
kurang lebih seratus kilo
meter dari kota merauke. Beliau Meninggalkan seorang istri dan enam orang
anak yang masih belia-belia.
Masih sangat banyak
tentu yang dapat dituliskan mengenai perjalanan hidup beliau dan lika-liku
dakwah yang dihadapi di ujung timur Indonesia, namun segores tulisan yang ini
semoga mampu mewakili. Sedikitnya gambaran penulis terhadap almarhum, akibat
jarangnya interaksi langsung penulis dengan almarhum dan keberadaan daerah yang
sudah tidak sama sejak 2008. Namun banyak kesan dan pelajaran berharga yang
didapat pada sedikitnya pertemuan dan singkatnya usia beliau. Betapa rekan-rekan
se-aktifis dimerauke dan tentu masyarakat merauke itu sendiri merasa kehilangan
sosok yang sulit dan bahkan belum dapat tergantikan ini. Kepergian beliau tentu
meninggalkan lubang dakwah yang besar di kabupaten Merauke. Selamat jalan
Ustad, selamat jalan Guru, tauladan seorang pejuang dakwah telah kau
perlihatkan pada kami, semoga Allah SWT menerima semua amal kebaikanmu, menempatkanmu
didalam SurgaNya mendapat ridha dan maghfirah Nya.
Surabaya, 11 Mei
2015  
M. Firdaus Abduh
Mantan Murid
Iqra Ustad Supardiyo 
Sumber: Email penulis. Penulis dapat dihubungi di FBnya: M. Firdaus Abduh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Flash Mob, PKS Jayapura Bagikan Pinang Kapur Sirih (PKS) yang merupakan Budaya Papua

DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Jayapura melaksanakan kampanye kreatif dengan menggelar Flash Mob, Rabu ...